Sebuah Kisah Tas Tenun Merah dari Luang Prabang



Menghabiskan waktu #dirumahsaja sungguh pilihan yang tidak mudah, apalagi jika pemerintah memutuskan untuk melakukan lockdown untuk mencegah meluasnya coronavirus. Ditengah keresahan situasi yang belum pasti kapan akan berakhir, saya mencoba menjaga agar pikiran tetap positif. Menggunakan masker jika keluar rumah dan hanya untuk urusan yang penting saja. Hari Minggu ini saya berencana akan pergi ke supermarket, stok buah di kulkas habis. Saya meraih tas kain dengan tenunan benang merah perpadu dengan kain biru indigo. “Awet juga ini tas”,batin saya. Sekilas tas kain itu tampak ringkih, kain slempangnya hanya dijahit biasa.  Tidak menyangka kalau ternyata tali itu sangat kuat membawa beban. Cukup lumayan banyak karena tas kecil itu biasanya berisi dompet, HP dan power bank, dompet kecil tempat surat kendaraan, seombyok kunci rumah dan sekotak tissue. Sesaat kemudian saya mengingat saat pertemuan pertama dengan tas kain tenun merah indigo itu.
Luang Prabang, Laos, Juni 2018
 “Bagus yang itu, cocok buat kondangan ya?” tanya saya pada Nita adik sepupu saya sambil meraih tas cangklong berbentuk bulat dengan perpaduan bahan rotan dan kain biru. “Wah iya cuantik ini, coba tanya berapa harganya mbak”, jawabnya. Belum sempat mulut saya membuka untuk bertanya pada si ibu, ”Kayaknya nggak muat di koper, nanti kita overload, ini nggak bisa diuwel-uwel sih”lanjut Nita. “Ah iya juga ya,” kata saya dengan nada sedih. Saya melemparkan senyum, menganggukan kepala, mengucapkan terima kasih dan berlalu. Di hari pertama tiba di sini sebaiknya saya mengerem dulu hasrat belanja hanya karena lapar mata. Baiklah malam ini sampai di sini dulu ya, saatnya kembali ke hotel. Terlalu lelah berjalan kaki setelah menempuh perjalanan panjang dari Jogja hingga ke Laos.



Hampir setiap malam kami selalu ke sini, entah untuk makan malam atau hanya melihat-lihat. Jalan utama tempat Street Hawker ini berjualan berada di depan Museum National. Lepas jam 3 sore, para pedagang mulai berdatangan, memasang tenda merah dan biru dan menggelar dagangan mereka. Penjual di sini kebanyakan perempuan. Di sebelah sana saya melihat seorang ibu yang menggendong bayinya yang tertidur pulas, tangannya dengan lincah menggerakan jarum pada kain polos berwarna pink. Di atas kain itu diberi gambar orang dan beberapa bunga. Ujung jarum itu bergerak mengikuti gambar pola sehingga benangnya menutupi garis pensilnya. Kain-kain itu nanti kemudian di jahit membentuk dompet kain.




“ibu yang jual tas kemaren di sebelah mana ya?” tanya saya pada adik sepupu saya. “Masih agak ke sana deh mbak, itu kan jalan ke warung kita makan malam kemaren”, jawab adik saya. Mata saya memastikan warung itu, ya memang benar, ada tenda dan mas-mas penjual. Di depannya ada aneka macam sayur segar. Saya tidak tau nama menu yang dia jual, tapi kalau boleh saya bilang itu mirip dengan menu steam boat. Baru berjalan beberapa langkah, mata saya sudah terpana melihat tas dengan benang tenun warna merah. Awalnya saya hanya melihat-lihat, meskipun memikat saya tidak berniat membelinya karena takut harganya yang mahal. Saya tidak pintar menawar, lagipula sepertinya berjualan di sini adalah salah satu mata pencaharian yang bisa diandalkan oleh mereka. Lihat saja, kalau memang bukan mata pencaharian utama buat apa adik kecil itu ada di sini. Dagangannya persis di depan  lapak si ibu, jadi saya berdiri di depannya. Berusia kira-kira 9 atau 10 tahun, dia sedang melayani pembeli yang mencoba menawar beberapa dompet kain. Harusnya dia ada di rumah dan belajar, bukannya besok harus sekolah.
Dengan bahasa isyarat dan bahasa Inggris terbatas, si ibu berusaha meyakinkan saya untuk boleh menawar. Mungkin dia pikir saya berpikir keras untuk membeli atau tidak karena harga. Keramahan dan kesabaran Ibu penjual telah memenangkan hati saya. Tas kain itu berhasil meraih most have item malam itu. Hati saya bergirang. “Sabaidee” kata saya melontarkan senyum terbaik dan berlalu dengan tas kain tenun merah yang sudah tersimpan di tas kresek hijau yang saya tenteng. Saya kagum dengan penjual di sini, mereka sangat sabar dengan turis. Tidak ada raut judes atau omelan saat kita tidak jadi membeli dagangan mereka dan hanya sekedar melihat-lihat. Mereka sadar bagaimana hidup mereka bergantung pada pariwisata. 



Lalu bagaimana sekarang? Ya, saya membayangkannya, di tengah pandemi coronavirus ini tenda merah biru itu tidak terpasang. Siapa yang akan membeli dagangan mereka jika tidak ada turis yang berkunjung. Barangkali Luang Prabang night market berhenti untuk sesaat.  Namun bagi saya tas kain tenun merah tidak pernah berhenti memberikan kenangannya. Entah kapan pandemi coronavirus ini berakhir. Semoga keadaan segera membaik dan saya bisa kembali lagi ke sana. Bersepeda berkeliling kota, naik kapal menyusuri sungai Mekong atau hanya sekedar menikmati jus mangga di pinggir Sungai Han. Nanti kita cerita tentang Luang Prabang ya. Sekarang saya mau ke supermarket dulu, keburu tutup. See you later




Komentar

Postingan Populer