Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menjejakkan Kaki Pertama Kali di Singapura (Part 1)

Sudah nonton Crazy Rich Asian kan? Film bergenre komedi romantis yang rilis 2018 silam. Pertama kali trailernya muncul dan melihat ada Marina Bay, waah harus nonton ini filmnya batin saya dalam hati. Meskipun saya sendiri tidak tahu apa cerita novel itu dan siapa saja pemainnya, toh yang saya kenal hanya nama Michelle Yeoh saja. Yang jelas penggalan gambar Marina Bay di trailer film itu langsung membawa ingatan saya terbang ke tahun 2012 silam, saat pertama kali melakukan perjalanan ke luar negeri. Tidak terbayangkan waktu itu euforianya. Untunglah saya pergi dengan 2 orang teman yang sudah memiliki perjalanan ke luar negeri sebelumnya sehingga cukup memberikan ketenangan.

kawasan little india singapura
Kawasan Little India di Singapura

Tetapi kenyataanya begitu pesawat mendarat di Changi Airport tetap saja ada rasa nervous, ditambah lagi saat melalui proses imigrasi. Saya dibuat kagum dengan sistem transportasi yang di Singapura. Semua terintegrasi dengan begitu teratur. Transportasi dari bandara ke kota menggunakan MRT, dan itu yang kami pilih untuk menuju tempat penginapan kami yang berada di dekat daerah Little India. Sebelum mencari Crowd Inn kami memutuskan untuk mengisi perut sejenak sambil beristirahat. Tanpa pikir panjang kami langsung memesan burger dan kentang goreng dari fastfood resto berlogo M yang ada di depan kami berdiri sedari tadi.

Hotel Inncrowd Little India Singapura
Inncrowd salah satu penginapan favorit turis backpacker di Singapura

Tidak sampai 10 menit burger di tangan saya sudah habis, saking laparnya atau karena enak. Entahlah, yang jelas irisan patty-nya agak tebal. Sayangnya saus sambal di sini cenderung manis hampir tidak terasa pedas, meskipun saya bukan penikmat pedas tapi ada sedikit penyesalan tidak membawa sambal dari rumah. Oiya ada satu lagi resto fastfood yang wajib saya cari di perjalanan berikutnya ke Singapura yaitu Wendy’s. Potatoes wedges-nya itu ngangeni sekali, irisannya tebal garing dengan kulit kentang yang masih menempel. Walah duh jadi makin kangen traveling kan ya, lanjut ceritanya ya.

Hari semakin siang, matahari makin terik kami pun segera beranjak. Meskipun perut sudah kenyang tetapi kaki udah mulai pegal dan sedikit mengantuk. Dalam bayangan sudah langsung rebahan di kasur menikmati tidur siang yang nyaman. Orang bilang jangan terlalu punya ekspektasi yang tinggi, sakit kalau jatuh. Semua bayangan indah pun langsung sirna. Barisan 6 ranjang susun dengan sprei berwarna merah tampak di depan mata. 3 tempat tidur yang berada di ujung dekat pintu balkon adalah ranjang milik kami. Sementara yang lain sudah terisi dengan tamu lain yang datang sebelum kami, saya rasa karena beberapa barang tergeletak di kasur dan selimut dalam keadaan tidak terlipat.

Tipe kamar penginapan backpacker di Singapura
Bankbed di Inncrowd Hotel Singapura

Tidak berapa lama kemudian pintu kamar terbuka, kami tertegun serombongan mas-mas India masuk ke kamar. Kami saling berpandangan dan lewat tatapan mata kami seakan berbicara satu sama lain kemudian tersenyum penuh arti. Yup malam ini kami akan sekamar dengan 6 orang India, 1 orang Amerika, 1 Orang Eropa, 1 orang Indonesia, pas 6 ranjang dengan 12 orang. Kami mencoba menerima keseruan ini meskipun merasa canggung di awal karena harus berbagi kamar/ruangan dengan orang lain. Kebetulan lagi shared room yang kami pilih adalah mix/campur pria dan wanita, ada 3 orang wanita (saya dan dua orang teman saya) sementara 9 yang lain pria. 

Kata orang pengalaman pertama itu harus berkesan biar selalu diingat. Sembilan tahun berlalu dan cerita berbagi kamar di Singapura selalu membuat kami tertawa terpingkal-pingkal. Tentu saja masih ada cerita yang harus saya bagi lagi tentang perjalanan pertama kali ke Singapura di bagian dua ya.

Posting Komentar untuk "Menjejakkan Kaki Pertama Kali di Singapura (Part 1)"