Bienvenue à Luang Prabang


Selamat Datang di Luang Prabang
Pagi ini matahari sangat cerah untuk memulai hari pertama di Luang Prabang. Ya kami tiba sore kemarin dengan penerbangan langsung dari Kuala Lumpur. Luang Prabang adalah sebuah kota yang berada di sebelah utara  kota Vientiane, ibu kota Laos. Tidak ada alasan khusus kenapa memilih Luang Prabang sebagai tempat liburan kami waktu ini. Begitu pemerintah mengumumkan liburan lebaran di bulan Juni 2018 dan cuti bersama yang lumayan panjang, saya bersama Nita, adik sepupu, segera menyusun rencana untuk pergi berlibur. Dan jadilah rute Luang Prabang – Bangkok selama 10 hari sebagai liburan keluarga pertama kami. 



Siapa sangka saya terpikat pada ketenangan kota ini. Terasa damai kala berjalan kaki menikmati sudut-sudut kota yang terasa seperti kota kuno. Saya tidak menemukan bangungan tinggi dan berarsitektur modern di sini. Satu-satunya hal yang menyadarkan saya bahwa ini bukan masa lampau adalah adanya mobil dan motor. Tidak banyak riuh kendaraan berlalu lalang, sekalipun tengah berada di pusat kota. Motor, mobil dan tuktuk melaju dengan kecepatan rendah sehingga saya masih bisa menghitung jumlahnya yang lewat. Kemacetan pun saya pikir tidak akan pernah ada di sini.
Bandara Luang Prabang tidak terlalu besar, ya mirip dengan Bandara Adisucipto Yogyakarta. Yang membedakan, bandara di Luang Prabang trafficnya tidak seramai Adisucipto. Tidak sampai satu jam kami sudah tiba di pusat kota dengan menggunakan mobil yang sudah kami pesan sebelumnya. Dalam hal ini saya tidak mau repot menggunakan kendaraan umum. Saya tidak yakin dengan kemudahan akses publik transport ke kota dan menuju ke hotel. Maklum seharian kemarin kami tidak tidur nyenyak, jadi kami ingin yang praktis saja. Sampai bandara ada yang jemput dan tiba di hotel dengan cepat. Jadi kami tidak membuang waktu untuk mencari alamat hotel. Benar saja, hotel kami tidak berada di pinggir jalan besar dan harus masuk gang. Bisa dibayangkan kalau kami harus naik kendaraan umum. 


“Halo", pria tinggi dengan kacamata berkepala plontos menyapa kami. Dari logatnya saya menebak dia orang Prancis. Dan benar kan tebakan saya. Ya memang seperti yang sudah diketahui Laos adalah salah satu negara bekas jajahan Prancis. Beberapa papan nama di depan sebuah gedung pemerintahan ditulis dalam tiga bahasa, Bahasa Lao (penulisannya dengan huruf Lao) bahasa Prancis dan Bahasa Inggris. jadi wajar saya apabila banyak ditemukan orang Prancis yang memiliki usaha di sini, termasuk Cold River ini. Meskipun dikelola oleh orang asing, hotelnya tetap mempertahankan bentuk rumah tradisional Lao. Setelah kami selesai dengan urusan check-in kami diantar menuju ke kamar. Ambiance hotel ini sangat tenang, kebetulan hotel kami dekat dengan Sungai Khan. Begitu kami membuka pintu kamar di depan kami adalah Sungai Khan.

Halo… Bienvenue à Luang Prabang.





.

Komentar

Postingan Populer