Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Akulturasi Kuliner Budaya Jawa dan Tionghoa di Yogyakarta: Bakpia, Bakmi Jawa, dan Wedang Ronde

Gerbang utama kampung pecinan Yogyakarta

Tiba-tiba saja saya mengidam nasi ayam Hainan. Mungkin karena suasana Imlek masih terasa hangat, atau karena sekotak kue keranjang di rumah belum juga berkurang isinya. Aroma dan ingatan tentang hidangan peranakan seolah bermunculan satu per satu di kepala. Dari sekian banyak pilihan, yang paling ingin saya santap justru sepiring nasi ayam Hainan.

Nasi ayam Hainan atau dikenal sebagai Hainanese Chicken Rice merupakan hidangan khas Tionghoa yang menyajikan ayam rebus dengan tekstur lembut dan cita rasa gurih alami. Ayam tersebut disandingkan dengan nasi yang dimasak menggunakan kaldu ayam, lemak ayam, jahe, dan bawang putih, menghasilkan aroma harum dan rasa yang ringan namun kaya. Sederhana dalam tampilan, tetapi kompleks dalam kenikmatan.

Jatuh Cinta pada Kuliner Peranakan

Asal Usul hidangan ini berasal dari para imigran asal Hainan, Tiongkok, yang menetap di Asia Tenggara (terutama Malaysia dan Singapura) dan mengadaptasi hidangan Wenchang Chicken dari kampung halaman mereka.

Ayam biasanya direbus perlahan (teknik poached)  hingga matang dan menghasilkan tekstur lembut dan kenyal. Bagian kulit ayam diberi minyak wijen agar mengkilap. Selanjutnya beras dimasak menggunakan air kaldu ayam, lemak ayam, jahe, bawang putih, dan daun pandan untuk menghasilkan nasi yang aromatik.

Sebagai pelengkap ada irisan mentimun, potongan daun ketumbar dan saus. Salah satu ciri khas penjual nasi ayam Hainan adalah ayamnya yang digantung. Ayam disajikan pada suhu ruang atau sedikit dingin untuk menonjolkan tekstur halus dan rasa manis alaminya.

Nasi ayam Hainan atau yang lebih dikenal dengan sebutan chicken rice merupakan hidangan yang sangat populer di Asia Tenggara. Di Singapura, Malaysia, Vietnam, Thailand ( dikenal dengan nama khao man gai) hadir dalam berbagai versi adaptasi.

Perkenalan pertama saya dengan hidangan ini terjadi di Bangkok pada 2013. Secara tidak sengaja, saya menemukan sebuah warung sederhana tak jauh dari penginapan di kawasan Khao San Road. Warung itu dikelola seorang pria Thailand yang, menurut teman perjalanan saya, wajahnya mirip Nickhun, personel boyband 2PM dari Korea Selatan.

Menunya hanya satu yaitu chicken rice. Tidak ada pilihan lain. Namun justru di situlah letak keistimewaannya. Ayamnya lembut, nasinya gurih dengan aroma jahe yang ringan, dan rasanya terasa bersih serta tidak berlebihan.

Selama beberapa hari di Bangkok, saya selalu kembali ke tempat itu untuk sarapan. Padahal, niat awal ke Thailand adalah mencicipi tom yam autentik. Nyatanya, saya malah kepincut pada sepiring nasi ayam Hainan.

Di Yogyakarta, restoran yang menyajikan menu peranakan kini semakin mudah ditemukan. Namun, entah mengapa, cita rasa chicken rice dari warung kecil di Bangkok itu belum tergantikan. 

Sayang sekali ketika saya kembali ke kota tersebut pada 2018, warung sederhana itu sudah tidak ada lagi. hanya menyisakan kenangan tentang sepiring nasi ayam hangat yang saya santap untuk pondasi memulai hari.

Akulturasi Hidangan Tionghoa dan Jawa

Baiklah, cukup sudah mengenang sepiring nasi ayam Hainan dari warung kecil yang kini tinggal cerita. Justru dari kehilangan kecil itulah saya kembali menyadari betapa kuatnya jejak kuliner Tionghoa di Asia Tenggara, termasuk di Yogyakarta.

Saya ingin mengajak kalian menelusuri tiga hidangan yang menjadi bukti akulturasi Jawa dan Tionghoa yaitu bakpia, bakmi Jawa, dan wedang ronde. Di kota ini, jejak akulturasi budaya Tionghoa dan Jawa hadir dalam bentuk yang akrab melalui 3 kuliner tersebut. 

Bakpia: Dari Pia Daging ke Ikon Oleh-Oleh Jogja

Siapa yang tidak tahu bakpia. Rasa-rasanya kudapan ini sudah tidak asing lagi di telinga kalian. Bahkan mungkin telah akrab di lidah. Ya, bakpia yang dikenal sebagai oleh-oleh khas Yogyakarta adalah salah satu dari hasil akulturasi kuliner antara Tionghoa dan Jawa. 

Nama bakpia berasal dari bahasa Hokkian yaitu bak yang berarti daging dan pia yang berarti kue. Bakpia berarti kue yang berisi daging. Pada waktu itu masyarakat Tioghoa menggunakan daging babi. Namun karena di Yogyakarta, kebanyakan masyarakatnya beragama Islam dan tidak mengkonsumsi daging babi maka isian bakpia diganti dengan kacang hijau. 

Kuliner ini dibawa oleh imigran Tioghoa sekitar tahun 1940 ke Yogyakarta dan berkembang di wilayah Pathuk. Itulah kenapa saat ini orang-orang menyebutnya bakpia Pathuk. Tahun berganti tahun, kawasan Pathuk menjadi sentra pengusaha bakpia di Yogyakarta. 

Dalam perkembangannya bakpia tidak melulu berisi kacang hijau, tetapi sudah mengikuti selera kekinian. Coklat, keju, matcha adalah salah satu varian isian bakpia yang digemari kaum muda. Mungkin karena kawasan Pathuk dekat dengan Malioboro, para wisatawan menjadikannya oleh-oleh setiap kali pulang liburan ke Yogyakarta. Jadilah bakpia mulai dikenal oleh masyarakat, tidak hanya dikonsumsi warga lokal tetapi juga luar daerah. Siapa nih yang tiap ke Jogja selalu mampir beli bakpia?

Bakmi Jawa: Tradisi Tionghoa yang Beraroma Arang 

Kuliner hasil akulturasi budaya Tionghoa berikutnya adalah bakmi. Ya tidak hanya di Yogyakarta bakmi sudah meluas ke seluruh pelosok Indonesia. Hampir semua wilayah memiliki kuliner khas berbahan dasar utama mi. 

Sama halnya dengan bakpia, Bakmi berasal dari Tiongkok, dibawa oleh imigran Tiongkok (terutama Fujian) ke Nusantara sekitar abad ke-19. Istilah "bakmi" berasal dari dialek Hokkian, di mana "bak" berarti daging dan "mi" berarti mie, yang secara harfiah berarti "mie daging". 

Yamin Manis, salah satu varian mi lokal hasil akulturasi budaya Tionghoa

Bakmi kemudian berkembang menjadi berbagai varian lokal seperti Bakmi Jawa, Bakmi Bangka, Mie ayam dan lain-lain. Semuanya memiliki kekhasan daerah masing-masing termasuk bumbunya

Bakmi Jawa sebagai hasil dari akulturasi budaya Tionghoa memiliki cita rasa gurih. Perpaduan bawang merah, bawang putih dan kemiri sebagai bumbu utama.  Yang membedakan Bakmi Jawa dengan bakmi lainnya adalah cara masaknya yang masih tradisional. 

Bakmi Jawa dimasak masih menggunakan cara tradisional yaitu masih menggunakan tungku tanah liat (anglo) dan api dari arang. Penjual bakmi jawa di Jogja tidak langsung memasak dalam jumlah yang besar, melainkan per porsi. Demi menjaga konsistensi rasa. 

Hampir di setiap sudut jalan dijumpai gerobak-gerobak bakmi Jawa. Semua tinggal dipilih sesuai selera. Ada tiga pilihan yaitu bakmi godog, bakmi goreng dan bakmi nyemek. Telur yang digunakan untuk bakmi Jawa pun menggunakan telur beberk. Rahasia rasa medok dan gurih Bakmi Jawa. Nah bila kalian kebetulan berkunjung ke Jogja jangan lupa mencicipi kuliner ini ya.

Wedang Ronde: Hangatnya Jahe dalam Bola-Bola Ketan

Wedang ronde adalah hasil akulturasi budaya Tionghoa dan Jawa yang bermula dari hidangan tradisional Tiongkok bernama tangyuan, bola ketan dalam sup manis yang disajikan saat festival musim dingin. 

Hidangan ini dibawa imigran Tionghoa ke Nusantara kemudian beradaptasi menjadi kuah jahe hangat dengan gula Jawa. Di Yogyakarta wedang ronde terdiri dari bola-bola ketan, kacang tanah sangrai, kolang-kaling, dan potongan roti tawar. 

Asal Nama "Ronde" sendiri diyakini berasal dari bahasa Belanda rondje, yang berarti "bulat", merujuk pada bola-bola ketan isi kacang. Kini, wedang ronde menjadi kuliner ikonik di Jawa Tengah dan Yogyakarta, disajikan malam hari dan sering dianggap sebagai minuman kesehatan karena kandungan jahenya.

Saat malam hari banyak sekali penjual ronde yang mendorong gerobaknya di dalam gang-gang kampung dan jalanan kota Yogyakarta. Atau kalau kalian hendak mencari wedang ronde yang mangkal bisa datang langsung ke Alun-alun Selatan Yogyakarta, sekalian jalan-jalan dan kulineran di sana.

Akulturasi yang Saling Menguatkan

Bakpia, bakmi Jawa, dan wedang ronde membuktikan satu hal penting bahwa akulturasi bukanlah penghapusan identitas, melainkan proses saling menyesuaikan dan memperkaya. Budaya Tionghoa membawa teknik, bahan, dan tradisi. Budaya Jawa memberi sentuhan rasa, konteks sosial, serta penyesuaian nilai religius.

Di tengah perayaan Imlek, kisah-kisah seperti ini menjadi pengingat bahwa Indonesia dibangun dari perjumpaan melalui migrasi dan dialog panjang lebih terasa di atas piring walaupun tidak tercatat di dalam buku sejarah. 

Suatu hari nanti jika kalian membeli bakpia sebagai oleh-oleh, menyantap bakmi Jawa di pinggir jalan, atau menyeruput wedang ronde di malam hari, cobalah berhenti sejenak. Di balik rasa manis kacang hijau, gurihnya mi beraroma arang, atau hangatnya jahe, ada cerita tentang perjalanan manusia lintas zaman. 

Itulah yang membuat kuliner Yogyakarta tidak pernah kehilangan pesonanya. Karena tidak hanya bicara soal rasa tetapi juga tentang cerita. Nah, kalau harus memilih, mana kuliner favorit kalian bakpia, bakmi Jawa, atau wedang ronde?



Dian Purnama
Dian Purnama Hi, I am Dian

Posting Komentar untuk "Akulturasi Kuliner Budaya Jawa dan Tionghoa di Yogyakarta: Bakpia, Bakmi Jawa, dan Wedang Ronde"