Keliling Kota Naik Trans Jogja
Bus Trans Jogja yang saya tumpangi perlahan meninggalkan halte Malioboro. Siang itu penumpang tidak banyak, memberi ruang untuk duduk dekat jendela. Posisi favorit setiap kali saya bepergian sendirian. Dari balik kaca bus, Jogja terlihat berjalan dengan ritmenya sendiri: tenang, akrab, dan tidak tergesa.
Keliling kota naik Trans Jogja selalu memberi pengalaman yang berbeda. Perjalanannya memang tidak secepat motor atau ojek daring, tetapi justru di situlah letak kenikmatannya. Dari satu halte ke halte lain, saya bisa menikmati Jogja dengan tempo yang lebih pelan, sambil mengamati kehidupan kota yang sering terlewat jika terburu-buru.
Hari itu, rute saya sederhana, dari halte Malioboro menuju kawasan Pakualaman. Jarak yang hanya beberapa menit jika ditempuh dengan sepeda motor, berubah menjadi perjalanan reflektif ketika dijalani dengan transportasi publik. Dalam waktu singkat itu, ingatan tentang wajah transportasi Jogja di masa lalu pun kembali muncul.
Dari Bus Kota ke Trans Jogja: Perjalanan yang Tidak Pernah Benar-Benar Pergi
Wajah jalanan Jogja pernah diramaikan nama-nama yang kini tinggal kenangan: Kopata, Aspada, Puskopar, dan Kobutri. Bus-bus kota itulah yang selama puluhan tahun menjadi armada utama transportasi warga Jogja berpindah dari satu tempat ke tempat lain.
Kala itu, saat pemerintah daerah menghentikan operasionalnya, yang terlintas di benak saya bukan sekadar pergantian moda, tetapi juga nasib para sopir dan kernet yang hidupnya bergantung pada setir dan pintu bus.
Saya bukan busmania. Bahkan sejak kecil, naik bus sering membuat mabuk. Namun, sekitar tahun 1990an hingga 2000an, keadaan membuat saya harus naik bus kota untuk mengantar ke tempat menuntut ilmu. Dari situlah memori kolektif itu satu persatu mulai terjalin.
Ada banyak cerita: bergelantungan di pintu bus karena penuh sesak pelajar, nyaris kecopetan saat berangkat kuliah, hingga menunggu bus ngetèm terlalu lama. Naik bus kota mulai tarif pelajar Rp150 terus naik perlahan hingga Rp500. Oiya, tarif umum waktu itu masih Rp1.000.
Dan momen favorit saya selalu sama yaitu melewati Malioboro, lalu berhenti (ngetèm) di depan Pasar Beringharjo. Kebetulan sekolah saya dulu berada di kawasan Malioboro. Ndilalah-nya saat kuliah rute pulang dari kampus ke rumah pun melewati jalan yang sama.
Saya suka mengamati kesibukan pasar, pedagang, dan wisatawan. Pengalaman-pengalaman itulah yang tak akan pernah saya miliki jika tidak pernah naik bus kota. Kini, rute itu masih sama. Jalannya tetap Malioboro. Namun busnya berganti nama: Trans Jogja. Sentimental? Mungkin. Tapi rasanya seperti bertemu teman lama dengan wajah baru.
Trans Jogja dan Transportasi Publik di Yogyakarta
Menurut saya, salah satu penyebab sepinya bus kota dulu adalah meningkatnya daya beli masyarakat terhadap sepeda motor. Jalanan semakin padat dengan kendaraan pribadi yang lebih dipilih karena hemat waktu. Bus kota semakin kehilangan penumpang, hingga akhirnya satu per satu menghilang.
Lalu bagaimana nasib transportasi publik di Yogyakarta? Jawabannya datang pada Februari 2008, ketika Trans Jogja resmi beroperasi di bawah pengelolaan Dinas Perhubungan DIY. Konsepnya berbeda dengan Kopata dkk, yang ini bus berhenti di halte tertentu dan penumpang tidak bisa naik turun sembarangan. Lebih tertib, lebih teratur, dan yang terpenting ongkosnya tetap terjangkau.
![]() |
| Trans Jogja melaju di jalanan kota Yogyakarta |
Bagi wisatawan, terutama solo traveler, backpacker atau wisatawan mendang mending, keberadaan Trans Jogja bukan hanya sekadar alternatif murah. Ia adalah sebuah grand prize untuk menjelajahi kota tanpa harus ribet menyewa kendaraan atau bergantung pada ojek daring.
Rute dan Tarif Trans Jogja Terbaru 2026
Mulai 1 Januari 2026, Trans Jogja mengoperasikan sekitar 15 jalur utama dengan total hingga 20 koridor. Armada yang digunakan mencapai sekitar 130 unit dengan lebih dari 500 titik pemberhentian yang tersebar di Kota Yogyakarta, Sleman, dan Bantul.
Sebagian besar rute melewati kawasan strategis wisata, seperti Malioboro, Titik Nol Kilometer, Prambanan, Terminal Jombor, Terminal Giwangan, hingga Bandara Adisutjipto. Jam operasional umumnya mulai pukul 05.30 hingga 20.30 WIB.
Tarifnya pun masih ramah di kantong. Tarif umum dibedakan menjadi dua yaitu tarif umum reguler (tunai) sebesar Rp3.500 dan tarif umum non-tunai/QRIS sebesar Rp2.700. Tarif khusus pelajar sebesar Rp500 sedangkan tarif khusus lansia dan disabilitas sebesar Rp2.000
Pembayaran non-tunai Trans Jogja pada tahun 2026 semakin praktis menggunakan kartu uang elektronik bank (e-Money Mandiri, BRIZZI, BNI TapCash, BCA Flazz), Kartu KRL (KMT), kartu berlangganan Trans Jogja, serta QRIS Tap (GoPay, OVO, Dana, LinkAja, MyBCA) melalui NFC.
Pembayaran dilakukan dengan menempelkan kartu atau HP pada mesin tapping di halte atau bus. Bagi wisatawan, sistem pembayaran non-tunai ini justru memudahkan, karena tidak perlu repot menyiapkan uang (tunai) pas.
Bagi wisatawan atau yang baru pertama kali naik Trans Jogja bisa menginstal aplikasi trans jogja atau mitra darat di apps store. Aplikasi ini memungkinkan calon penumpang mengetahui informasi tentang rute dan jalur trans jogja, informasi bus terdekat dan shelter/halte terdekat. Bahkan sekarang sudah bisa membeli tiket langsung dari aplikasi trans jogja. Segampang itu.
Pengalaman Naik Trans Jogja sebagai Solo Traveler
Naik Trans Jogja sendirian memberi ruang untuk mengamati kota dari balik kaca. Jogja terasa berbeda saat dilihat dari kursi bus. Anda bisa melihat pedagang menata dagangan, mahasiswa berangkat kuliah, hingga wisatawan yang tampak kebingungan mencari halte.
Bagi solo traveler, Trans Jogja menawarkan rasa aman. Halte jelas, rute pasti, dan suasana bus relatif nyaman. Tidak perlu tawar-menawar, tidak ada kekhawatiran salah tarif. Tinggal duduk, memperhatikan papan informasi, dan membiarkan kota mengalir di depan mata.
Tips Keliling Jogja Naik Trans Jogja untuk Wisatawan
![]() |
| Bus dan halte Trans Jogja di kawasan Malioboro |
Agar pengalaman menjelajah kota Jogja dengan Trans Jogja makin optimal, terutama jika bepergian sendiri, berikut beberapa tips praktis:
1. Tentukan Destinasi Berdasarkan Rute Trans Jogja
Cek rute Trans Jogja terlebih dahulu, lalu susun itinerary berdasarkan koridor yang dilewati. Malioboro, Keraton, Taman Pintar, dan Titik Nol Kilometer berada di jalur yang saling terhubung. Sangat efektif.
2. Berangkat Lebih Pagi agar Lebih Nyaman
Jam operasional mulai pukul 05.30 WIB. Berangkat pagi membuat perjalanan lebih nyaman, bus belum terlalu penuh, dan cuaca Jogja masih bersahabat.
3. Gunakan Pembayaran Non-Tunai
QRIS atau kartu non-tunai mempercepat proses naik bus. Sangat membantu bagi wisatawan yang tidak ingin repot menyiapkan uang kecil.
4. Siapkan Waktu Lebih untuk Slow Travel
Naik Trans Jogja memang bukan yang tercepat, tapi justru cocok untuk slow travel. Jangan menyusun jadwal terlalu padat.
5. Jangan Ragu Bertanya di Halte
Petugas halte dan penumpang lokal umumnya ramah. Bertanya justru sering berujung obrolan kecil yang menyenangkan.
Menikmati Jogja dengan Cara yang Lebih Pelan
Akhirnya perjalanan singkat dari Malioboro berakhir di halte Pakualaman. Tidak ada kejadian dramatis yang saya jumpai tetapi justru di situlah letak kedalamannya. Naik Trans Jogja mengajarkan satu hal, Jogja tidak selalu harus dikejar.
Kota ini bisa dinikmati dengan pelan-pelan, dari halte ke halte, dari jendela bus yang sederhana. Bagi saya, Trans Jogja bukan sekadar alat transportasi, tetapi cara lain untuk merasakan denyut kehidupan kota saat butuh jeda. Pulang dengan perasaan yang lebih ringan karena perjalanan tidak selalu tentang sampai, tetapi tentang bagaimana kita melaju.
Jika kalian berkunjung ke Jogja dan ingin merasakan kota ini dengan cara yang lebih santai, cobalah naik Trans Jogja. Duduklah dekat jendela, biarkan kota bercerita lewat kaca bus. Siapa tahu, justru menemukan Jogja yang paling kalian suka, versi yang tidak tergesa, tidak bising, tidak sumuk (gerah) dan terasa lebih dekat.



Posting Komentar untuk "Keliling Kota Naik Trans Jogja"