Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Perjalanan ke Madiun dan Jejak Makanan Kuno yang Masih Bertahan

suasana antrean di warung nasi 99 madiun

Kereta yang saya tumpangi berhenti di Stasiun Madiun pada pagi menjelang siang. Begitu kaki menjejak peron, ada rasa ringan yang sulit dijelaskan. Bisa jadi karena satu hal sederhana yang sejak awal sudah saya tunggu-tunggu.

Ini kali kedua saya datang ke kota ini. Kunjungan pertama sudah berlalu hampir sembilan tahun lalu. Waktu yang cukup lama untuk membuat ingatan samar, sekaligus cukup dekat untuk menghadirkan nostalgia. 

Beberapa sudut Madiun terasa familiar, sementara bagian lainnya seperti benar-benar baru. Entahlah. Namun ada satu hal yang tidak berubah, alasan saya datang ke Madiun tetap sama.

Pecel Madiun dalam Jejak Sejarah Jawa, Tradisi Kuliner yang Bertahan

Madiun bukan hanya persinggahan kereta di Jawa Timur. Kota ini menyimpan jejak panjang kuliner tradisional yang diwariskan lintas generasi. Salah satunya adalah makanan kuno berbasis sayuran dan bumbu kacang yang hingga kini masih menjadi pilihan utama warga lokal maupun pelancong yang datang dengan satu tujuan: mencicipi rasa yang tak berubah oleh waktu yaitu nasi pecel Madiun.

Keberadaan pecel di Madiun tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang Jawa. Sejumlah catatan menunjukkan bahwa makanan berbahan sayuran rebus dengan bumbu rempah sudah dikenal sejak masa Mataram Kuno. 

Dilansir dari Wikipedia, pecel tertulis dalam Prasasti Taji Ponorogo (901 M), Prasasti Siman dari Kediri (865 S/943 M), Babad Tanah Jawi (1647 M). Dalam prasasti tersebut disebutkan makanan dari daun-daunan yang direbus dan diolah dengan bumbu khusus. 

Pecel juga tercantum dalam Serat Centhini (1742 S/1814 M), kitab sastra Jawa yang mendokumentasikan kehidupan sosial dan budaya masyarakat, termasuk kebiasaan makan.

Lalu bagaimana pecel bisa sampai ke Madiun? Dugaan saya, perjalanan pecel sampai ke Madiun tidak bisa terlepas dari sejarah Jawa.  Secara historis, setelah Perjanjian Giyanti tahun 1755 Madiun ditetapkan menjadi sebuah wilayah di bawah kekuasaan Kesultanan Yogyakarta sebagai mancanagara brang wetan

Hingga akhirnya Madiun diserahkan kepada Belanda pada tahun 1830, pasca Perang Jawa usai. Dari dinamika politik inilah, budaya atau tradisi kuliner seperti pecel (mungkin) berkembang dari Yogyakarta kemudian berakar kuat di wilayah Madiun. 

Mengapa Nasi Pecel Madiun Berbeda?

Pecel merupakan hidangan yang mudah dijumpai di berbagai daerah di Jawa, mulai dari Yogyakarta, Jawa Tengah, hingga Jawa Timur. Namun, nasi pecel Madiun memiliki karakter yang berbeda.

Di Madiun, pecel biasanya dilengkapi dengan srundeng (kelapa parut yang disangrai bersama bumbu rempah-rempah), mlandingan (petai cina), serta pelengkap seperti rempeyek atau kerupuk gendar (karak).

nasi pecel 99 madiun
nasi pecel khas madiun

Sambal kacangnya cenderung lebih pekat, gurih, memiliki tingkat kepedasan yang cukup tinggi serta aromatik daun jeruk. Cita rasa inilah yang membuat pecel Madiun memiliki identitas kuat dan mudah dikenali.

Komposisi sayuran pun terasa seimbang. Kombinasi antara sayuran rebus dan sayuran mentah yang memberikan sensasi segar juga menyehatkan. Pecel bisa disantap tanpa nasi atau dengan nasi. Semua tergantung selera.

Menyantap Nasi Pecel di Warung Pecel Legendaris

salah satu warung nasi pecel legendaris di Madiun
Nasi Pecel 99 Madiun, tampak depan

Perut saya mulai kerocongan setelah berjalan kaki berkeliling kota Madiun. Menjelang waktu makan siang, saya putuskan menuju salah satu warung pecel yang cukup dikenal di Madiun, yakni Nasi Pecel 99. Tempat ini bukan pilihan baru bagi saya. Sembilan tahun lalu, saat kunjungan pertama ke Madiun, saya juga sempat menyantap pecel di sini sebagai menu sarapan.

Siang itu depot terlihat lebih ramai, dan antrean mengular pendek. Satu demi satu rombongan berdatangan dan mulai mengisi kursi-kursi kosong. Warung yang tadinya sepi kini riuh.  Aktivitas di balik etalase pun berjalan cepat, menandakan jam makan siang sedang mencapai puncaknya.

“Mas, sambal kacangnya sedikit saja,” pinta saya kepada penjual, tepat sebelum bumbu disiramkan ke atas sayuran begitu giliran saya tiba. 

Bagi saya, sambal kacang pecel Madiun memiliki tingkat kepedasan yang cukup kuat, sehingga takaran menjadi penentu kenikmatan.

Lalu dengan cepat saya menunjuk tahu bacem sebagai lauk pendamping. Dengan begitu pesanan saya siap dalam hitungan detik. Triknya sederhana saja, saat masih mengantre saya sudah menentukan lauk. 

Di warung ini, nasi pecel dihitung per porsi, sementara lauk dibayar terpisah. Sistem sederhana yang memudahkan pengunjung memilih sesuai selera. Harga yang ditawarkan pun relatif terjangkau.

Seporsi nasi pecel dibanderol seharga Rp9.000, sementara tahu bacem lauk favorit pilihan saya harganya Rp3.000 kalau tidak salah ingat.  Sedangkan untuk harga aneka lauk seperti daging, empal, ikan mulai dari harga Rp10.000 hingga Rp15.000. Masih termasuk angka yang masih ramah di kantong, terutama untuk kuliner legendaris yang konsisten menjaga rasa.

Pincuk dan Cara Penyajian Tradisional

nasi pecel disajikan di pincuk
sepincuk nasi pecel Madiun

Salah satu hal yang membuat pengalaman makan nasi pecel Madiun terasa otentik tradisional adalah cara penyajiannya. Pecel disajikan menggunakan pincuk, yakni lipatan daun pisang yang dibentuk menyerupai wadah terbuka dan disemat dengan lidi.

Pincuk bukan sekadar pengganti piring. Daun pisang memberi aroma khas yang menyatu dengan nasi hangat, aneka sayuran dan sambal kacang. Cara penyajian ini sudah lama digunakan dalam tradisi kuliner Jawa dan hingga kini masih dipertahankan. 

Nah, jaman dulu saat makan di pincuk orang menggunakan suru yang berfungsi sebagai sendok . Suru  terbuat dari lipatan daun pisang berbentuk menyerupai sekop kecil. Caranya suru diselipkan di antara jari telunjuk, jempol, dan jari tengah untuk menyendok makanan

Rasa yang Tetap Konsisten

Suapan pertama langsung mengingatkan saya pada kunjungan bertahun-tahun lalu. Sambal kacang terasa gurih dengan pedas yang perlahan muncul. Bumbu kacang kali ini pedasnya pas. Mungkin karena saya rikues sedikit saja. 

Sayuran rebusnya segar, berpadu dengan nasi hangat dan tekstur tambahan dari srundeng serta kerupuk gendar. Sebenarnya saya tidak terlalu suka srundeng, tapi untuk kali ini saya menoleransi perpaduan srundeng dan bumbu pecel. 

warung nasi pecel 99 yang penuh dengan foto-foto tokoh di dindingnya
foto-foto tokoh penghias dinding Nasi Pecel 99 Madiun

Di warung yang sederhana itu, pada dindingnya dipajang foto-foto tokoh yang pernah berkunjung. Seakan hendak bercerita tentang bagaimana nasi pecel Madiun menyuguhkan rasa yang apa adanya, tetapi justru itulah yang membuatnya bertahan. Saya pun makan dengan lahap dan menghabiskan sepincuk nasi pecel tanpa sisa. 

Alasan untuk Kembali ke Madiun

Perjalanan singkat ini kembali menegaskan bahwa alasan seseorang kembali ke sebuah kota tidak selalu berkaitan dengan destinasi wisata. Terkadang, alasan itu sesederhana sepincuk nasi pecel ini.

Menurut saya, nasi pecel Madiun menjadi penanda bahwa tradisi masih hidup di kota ini. Jika suatu hari perjalanan membawa kalian singgah ke Madiun, luangkan waktu untuk mencicipi makanan kuno yang satu ini. Di balik kesederhanaannya, tersimpan kisah panjang yang layak dirasakan perlahan.













Dian Purnama
Dian Purnama Hi, I am Dian

Posting Komentar untuk " Perjalanan ke Madiun dan Jejak Makanan Kuno yang Masih Bertahan"