Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Naik KA BIAS ke Madiun: Perjalanan Santai Menjelajah Kota Pecel

 

stasiun Madiun tampak dari depan

Pagi itu langit tampak muram. Beberapa ratus meter sebelum stasiun, rintik hujan mulai turun pelan. Tarikan gas sepeda motor ditambah, berharap bisa tiba lebih cepat sebelum hujan semakin deras. Januari memang selalu punya tantangannya sendiri untuk urusan bepergian. Musim hujan membuat setiap perjalanan terasa lebih emosional, galau antara berangkat atau menunda.

Bersama seorang teman, saya mengawali minggu kedua di awal tahun 2025 dengan satu rencana sederhana: menjajal KA Bandara Adi Sumarmo atau yang dikenal dengan KA BIAS. Setelah sebelumnya mencoba kereta bandara YIA, rasa penasaran membawa saya ingin mencoba rute serupa di Solo. 

KA BIAS Diperpanjang ke Madiun, Tujuan Pun Bergeser

Awalnya, tujuan saya hanya bandara Adi Sumarmo. Namun seperti banyak perjalanan lainnya, rencana itu berubah di tengah jalan. Sejak 2 November 2024, rute KA Bandara Adi Sumarmo resmi diperpanjang hingga Stasiun Madiun. 

Tidak lagi bandara, tetapi sebuah kota yang selama ini lebih sering dilewati daripada dikunjungi. Bagi seorang rail fans atau traveler, kabar rute baru selalu menarik. Menikmati perjalanan jadi lebih panjang dengan menggunakan kereta bandara yang tentu saja senangnya dobel-dobel bagaikan menang give away hehehe. 

Jarak tempuh Yogyakarta-Madiun tidak terlalu jauh sehingga bisa dibuat sekali jalan alias one day trip. Berangkat pagi pulang sore. Lebih hemat bujet  dan waktu. Tanpa koper dan tidak perlu resevasi hotel. Aha, cocok!

Jam keberangkatan KA BIAS paling pagi dimulai pada pukul 06.00 WIB dari Bandara Adi Sumarmo dan tiba di Stasiun Balapan pukul 06.18 WIB. pemberangkatan berikutnya dari Stasiun Solo Balapan pada pukul 08.53 WIB, 12.18 WIB, 14.23 WIB dan terakhir pada pukul 17.48 WIB.

Sebaliknya dari Stasiun  Madiun ke Solo Balapan juga ada 5 jadwal keberangkatan yaitu pada pukul 06.00 WIB,  08.10 WIB, 11.35 WIB, 15.00 WIB dan kereta terakhir pada pukul 16.20 WIB. Menilik jadwal kereta tersebut ada jeda waktu yang sangat cukup untuk menjelajah Madiun.

Memulai Perjalanan dari Stasiun Solo Balapan

Perjalanan dimulai dari Yogyakarta. Kami naik KRL dari Stasiun Lempuyangan menuju Stasiun Solo Balapan. Sekitar satu jam kemudian, kami tiba dan langsung mengikuti penunjuk arah menuju area kereta bandara. Alurnya cukup jelas dan rapi, bahkan untuk penumpang yang baru pertama kali mencobanya.

Karena belum membeli tiket, kami langsung menuju loket. Selain di loket, tiket KA BIAS sebenarnya juga bisa dibeli lewat aplikasi KAI Access. Harga tiket menuju Madiun saat itu Rp40.000 per orang, angka yang terasa cukup bersahabat untuk perjalanan lintas kota.

Jadwal keberangkatan terdekat pukul 08.53 WIB Setelah tiket di tangan, penumpang diarahkan turun menggunakan eskalator menuju peron khusus KA Bandara. Tak lama menunggu, rangkaian kereta pun datang.

Perjalanan 2 Jam di KA BIAS

Masuk ke dalam gerbong KA BIAS, kesannya langsung berbeda dibanding KRL maupun kereta jarak jauh. Interiornya didominasi warna hijau dengan konfigurasi kursi 2–2 tanpa nomor tempat duduk. Artinya, penumpang bebas memilih kursi yang kosong.

Jumlah rangkaian kereta tidak banyak, hanya sekitar tiga hingga empat gerbong. Pagi itu penumpang juga tidak terlalu ramai. Kursi terisi jarang, menciptakan suasana lengang dan tenang. Sebuah privilese tersendiri di tengah rutinitas perjalanan yang sering kali penuh sesak.

KA BIAS memang tidak dilengkapi toilet. Namun untuk perjalanan sekitar dua jam, hal itu masih bisa dimaklumi. Lagi pula, ritme perjalanan yang pelan dan stabil membuat waktu terasa berjalan lebih lambat, dalam arti yang menyenangkan.

Perjalanan KA BIAS menuju Madiun melewati 11 stasiun yaitu bandara Adi Sumarmo, Kadipiro, Solo Balapan, Solo Jebres, Palur, Sragen, Walikukun, Ngawi, Magetan, Madiun. Karena kami berangkat dari Solo Balapan hanya tersisa menyusuri 6 stasiun kecil di jalur timur sebelum masuk ke stasiun tujuan akhir yaitu Madiun.

Beberapa penumpang terlihat naik turun di setiap pemberhentian. Tidak ada keramaian seperti di KRL jam sibuk, tidak ada penumpang berdiri berdesakan. Yang ada justru kesempatan untuk menikmati perjalanan dengan lebih santai dan tenang.

pemandangan persawahan yang tampak dari jendela KA BIAS
Pemandangan persawahan yang tampak dari jendela KA BIAS

Saya menghabiskan waktu dengan memandangi pemandangan di balik jendela: sawah yang membentang, rumah-rumah penduduk, serta stasiun-stasiun kecil. Sesekali, saya mengamati penumpang yang naik dan turun. 

Sebuah potongan kecil dari kehidupan sehari-hari sering terlewatkan. Di momen seperti ini, perjalanan bukan lagi soal cepat sampai, melainkan soal menikmati proses. Sebuah esensi bepergian yang sering terlupakan.

Tiba di Madiun, Kota Pecel

Tanpa terasa, hampir dua jam berlalu. KA BIAS akhirnya berhenti di Stasiun Madiun. Waktu kami terbatas, hanya sekitar empat jam sebelum harus kembali ke Solo. Maka kami memilih menggunakan transportasi daring untuk bergerak lebih efisien.

Cuaca yang cukup terik membuat kami ingin membuka kunjungan dengan sesuatu yang segar. Pilihan jatuh pada es puter, jajanan sederhana yang terasa pas untuk menyegarkan tubuh sekaligus mengusir kantuk. 

Setelah itu, barulah kami menyantap menu utama yang tak boleh dilewatkan: nasi pecel. Madiun memang identik dengan pecel. Racikan sambalnya khas, dengan rasa kacang yang kuat. Makan siang sederhana ini menjadi penutup yang sempurna untuk perjalanan singkat kami di kota tersebut.

Jalan Kaki Santai, Melihat Lebih Dekat Madiun

Masih ada sisa waktu sebelum kembali ke stasiun. Dari depot nasi pecel, kami memutuskan berjalan kaki menuju Bluder Cokro, salah satu oleh-oleh legendaris Madiun. Langkah kaki pelan menyusuri trotoar memberi kesempatan untuk mengamati kota lebih dekat. 

Menyusuri jalanan yang  lalu lintasnya yang tidak terlalu padat, bangun lama di beberapa sudutnya mempertegas suasana kota kecil yang terasa bersahaja. Setelah puas belanja bluder sebagai buah tangan, kami kembali ke stasiun. Meskipun jaraknya dekat tetapi kami pilih pesan angkutan online lagi. 

Pulang dengan Rasa Puas

KA BIAS siap diberangkatkan dari stasiun Madiun
Pulang kembali ke Solo naik kereta KA BIAS

Kami kembali ke Solo menggunakan KA BIAS dengan jadwal keberangkatan pukul 15.00 WIB. Dari Stasiun Solo Balapan, perjalanan dilanjutkan dengan KRL menuju Stasiun Lempuyangan. Menjelang malam, kami akhirnya tiba kembali di Yogyakarta.

Dalam satu hari, kami berhasil menikmati perjalanan kereta yang tenang, mencicipi kuliner khas Madiun, dan membawa pulang oleh-oleh legendaris tanpa perlu tergesa-gesa. Hari itu saya tidak membawa banyak foto dan tidak mencentang banyak destinasi. Anehnya hati ini penuh sesak dengan rasa puas dan tenang. 

Perjalanan naik KA BIAS ini mengajarkan satu hal sederhana. Cukup duduk di kereta, melihat keluar jendela, dan membiarkan diri sendiri bernapas lebih pelan. Tidak perlu rencana rumit. Biarkan perjalanan membawamu ke kota yang mungkin selama ini hanya dilewati.


Dian Purnama
Dian Purnama Hi, I am Dian

Posting Komentar untuk "Naik KA BIAS ke Madiun: Perjalanan Santai Menjelajah Kota Pecel"