Jalan Kaki ke Ganjuran: 18 Kilometer yang Berakhir dengan Rasa Syukur
![]() |
Azan subuh baru saja berkumandang ketika saya hampir selesai bersiap. Mandi pagi sudah, tas kecil sudah terisi barang-barang seperlunya. Tinggal memanasi sepeda motor sebentar sebelum berangkat menuju titik kumpul.
Hari Sabtu minggu lalu, agenda saya cukup menantang: jalan kaki ke Ganjuran, tepatnya menuju Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran di Bantul, D.I. Yogyakarta. Jaraknya sekitar 18 kilometer dari pusat Kota Yogyakarta. Jika ditempuh dengan sepeda motor, perjalanan biasanya hanya memakan waktu sekitar 45 menit.
Namun kali ini berbeda. Kami akan menempuh jarak itu dengan berjalan kaki. Sesuai rundown yang dibagikan panitia, perjalanan akan dimulai pukul 05.00 WIB dan diperkirakan tiba di Ganjuran sekitar pukul 10.00 WIB.
Jujur saja, saya tidak sepenuhnya yakin bisa menuntaskan perjalanan sejauh itu dengan berjalan kaki. Karena itu, diam-diam saya sudah menyiapkan rencana cadangan. Berbekal aplikasi transportasi di ponsel dan kuota internet yang cukup, saya sudah bersiap jika sewaktu-waktu harus menyerah.
Rencananya, saya bisa naik bus Trans Jogja menuju Palbapang. Dari halte Palbapang ke Gereja Ganjuran tinggal sekitar tiga kilometer lagi, jarak yang masih sangat mungkin ditempuh dengan berjalan kaki. Walaupun sebenarnya panitia juga sudah menyiapkan satu mobil yang siap menjemput peserta jika ada yang tidak kuat melanjutkan perjalanan.
Pemanasan Sebelum Perjalanan Panjang
Setelah semua peserta tiba di lokasi kumpul, kami memulai dengan sesi stretching terlebih dahulu. Ini bagian yang tidak boleh dilewatkan. Fokus utama pemanasan ada pada kaki dan tumit, supaya otot siap bekerja dan risiko cedera bisa diminimalkan.
Sebagian besar peserta memang tidak terbiasa berjalan kaki jarak jauh. Jika langsung dipaksa berjalan sejauh 18 kilometer tanpa pemanasan, tentu bisa berbahaya. Selain itu, barang bawaan juga perlu diatur dengan baik. Prinsipnya sederhana: bawa seperlunya saja.
Yang paling penting adalah air minum, topi, dan jas hujan. Saya sendiri menambahkan sepasang sandal jepit di dalam tas, berjaga-jaga jika cuaca tiba-tiba berubah dan hujan turun deras.
Untuk air minum, sebaiknya tidak membawa tumbler yang terlalu besar dan berat. Air minum kemasan ukuran kecil atau sedang sudah cukup. Jika kehabisan, kita masih bisa membelinya di warung-warung di sepanjang jalan. Selain lebih praktis, cara ini juga membantu mengurangi beban bawaan selama perjalanan.
Menyusuri Jalan Kota yang Masih Sepi
Tepat pukul 05.05 WIB perjalanan pun dimulai. Kami berjalan menyusuri gang-gang kecil yang kemudian bermuara ke Jalan Brigjen Katamso, salah satu jalan utama di Yogyakarta. Suasana jalan masih lengang. Udara pagi terasa begitu segar, seolah penuh dengan oksigen yang belum tercampur hiruk-pikuk kendaraan.
![]() |
| Jalan MT. Haryono, rute jalan kaki ke Ganjuran |
Langkah kaki saya masih panjang dan terasa ringan. Ketika tiba di perempatan Pojok Beteng Timur, yang lebih dikenal dengan sebutan Jokteng Wetan, kami berbelok ke arah kanan menuju Jalan M.T. Haryono.
Di ujung timur, matahari mulai terbit. Langit perlahan berubah terang, menyebarkan cahaya keoranyean yang lembut di sepanjang jalan. Beberapa warga terlihat mulai beraktivitas. Ada yang membuka warung, ada pula yang sedang menyapu halaman rumah. Suasana pagi seperti ini selalu menghadirkan rasa tenang yang sulit dijelaskan.
Kami terus berjalan menyusuri Jalan M.T. Haryono hingga tiba di pojok benteng berikutnya, Jokteng Kulon. Bagi yang bertanya-tanya mengapa ada benteng di tengah Kota Yogyakarta, jawabannya berkaitan dengan sejarah kota ini. Keraton Yogyakarta dahulu dikelilingi oleh benteng yang berfungsi sebagai sistem pertahanan dan perlindungan dari serangan musuh.
Sebagian benteng tersebut masih tersisa hingga sekarang, terutama di bagian pojok-pojok benteng yang dikenal dengan istilah pojok beteng. Kini tempat itu justru menjadi salah satu penanda kota yang mudah dikenali oleh warga Yogyakarta.
Lurus Menuju Bantul
Dari Jokteng Kulon, perjalanan dilanjutkan dengan berbelok ke kiri menuju arah selatan, memasuki Jalan Bantul. Mulai dari titik ini, rutenya relatif sederhana: berjalan lurus ke selatan dengan jarak kurang lebih 15 kilometer lagi.
![]() |
| Jarak semakin dekat, tiba di depan Pasar Bantul |
Beberapa titik yang kami lewati di sepanjang jalan ke arah Bantul antara lain Ring Road Selatan, Pasar Bantul, Bantul Kota, Perempatan Gose, hingga Perempatan Palbapang. Sepanjang perjalanan tidak ada pos pemberhentian khusus.
Kami hanya berhenti jika ada peserta yang ingin mampir ke warung untuk membeli minuman atau sekadar beristirahat sebentar. Sesekali kami berhenti di SPBU atau minimarket untuk menggunakan toilet.
Selebihnya, perjalanan terus berjalan dengan ritme langkah kaki yang perlahan mulai berubah. Jika di awal langkah terasa ringan, kini mulai terasa lebih berat. Bahu mulai pegal, telapak kaki mulai terasa panas. Namun justru di titik-titik seperti inilah perjalanan terasa berbeda.
Berjalan kaki dalam jarak yang cukup jauh membuat kita lebih sadar akan ritme tubuh sendiri. Setiap langkah terasa lebih berarti. Setiap kilometer yang terlewati menghadirkan rasa kecil kemenangan.
Ketika Tujuan Sudah Mulai Terlihat
Pukul 08.53 WIB kami tiba di Perempatan Palbapang. Artinya perjalanan sudah hampir mencapai garis akhir. Dari sini, kami memilih melewati jalan-jalan kampung yang mengarah ke Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran. Suasana desa terasa lebih tenang dibandingkan jalan utama yang ramai kendaraan.
Langkah kaki saya sudah tidak secepat sebelumnya, tetapi semangat justru kembali muncul. Ketika sebuah papan petunjuk bertuliskan RS Elisabeth Ganjuran terlihat di depan mata, saya tidak bisa menyembunyikan rasa lega.
Tujuan sudah sangat dekat. Tinggal berjalan sedikit lagi. Akhirnya, tepat pukul 10.00 WIB kami tiba di kompleks Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran, persis seperti yang sudah dijadwalkan dalam rundown perjalanan.
18 Kilometer yang Terasa Berbeda
Ada rasa puas yang sulit dijelaskan ketika langkah terakhir itu sampai di halaman gereja. Perjalanan sejauh 18 kilometer yang di awal terasa mustahil, ternyata bisa dilalui juga meski harus berjuang langkah demi langkah.
Mungkin memang begitulah makna perjalanan. Kita sering merasa ragu di awal, bahkan menyiapkan rencana untuk menyerah. Namun ketika dijalani perlahan, ternyata jarak yang jauh pun bisa dilewati.
Hari itu saya belajar satu hal sederhana: terkadang perjalanan bukan soal seberapa cepat kita sampai, tetapi bagaimana kita menikmati setiap langkah menuju tujuan. Dan perjalanan pertama jalan kaki ke Ganjuran ini jelas akan menjadi salah satu pengalaman yang sulit dilupakan.



Posting Komentar untuk " Jalan Kaki ke Ganjuran: 18 Kilometer yang Berakhir dengan Rasa Syukur"