Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Meriahnya Perayaan 17 Agustus

suasana kampung saat merayakan hari kemerdekaan 17 Agustus

Agustus menjadi bulan yang sangat penting sekaligus bersejarah bagi bangsa Indonesia. 17 Agustus 1945 Indonesia menyatakan kemerdekaannya dan kini 77 tahun sudah berlalu sejak bapak Proklamator Soekarno Hatta membaca naskah teks proklamasi. Tahun berganti tahun, pembangunan demi pembangunan dilakukan di segala bidang, semua demi kemajuan bangsa Indonesia. Begitulah kami kini mengisi hari-hari kemerdekaan ini.

Tradisi Agustusan di Kampung

Memasuki bulan Agustus nuansa merah putih sudah terasa, di jalan-jalan bermunculan penjual bendera, umbul-umbul dan atribut untuk dekorasi. Di kampung-kampung warga bergotong-royong untuk melakukan kerja bakti. Membersihkan lingkungan kampung, mengecat tembok dan memasang umbul-umbul. 

Di mana-mana semua kampung tampak cantik dengan dekorasi. Tembok dan gapura yang dicat menjadikan kampung seperti lahir kembali dengan nuansa yang berbeda. Di minggu ke dua biasanya bendera merah putih sudah terpasang di depan masing-masing rumah warga.

Di kampung tempat saya tinggal kerja bakti massal baru diadakan di minggu pertama, tanggal 7 Agustus. Kegiatan kerja bakiti meliputi bersih-bersih jalan dan lingkungan sekitar rumah. Memasang umbul-umbul dan mengecat gang dengan warna-warni.

Di minggu ke dua, di tempat kami warga juga mengadakan aneka perlombaan khas Agustusan mulai dari anak-anak, remaja, dewasa hingga orang tua. Ada lomba lari kelereng, makan krupuk, memasukkan pulpen ke dalam botol, pukul air. Komplit, pokoknya semua terlibat dan gayeng.

Di beberapa tempat lain mungkin mengadakan perlombaan yang lebih seru seperti tarik tambang atau panjat pinang. Di pucuk pohon pinang digantungkan berbagai macam hadiah, sementara peserta lomba secara kelompok bekerja sama untuk mendapatkan hadiah-hadiah itu dengan cara memanjat, bagian batangnya tentu saja sudah diberikan oli/minyak agar licin. 

Peserta tentu saja kesulitan memanjat, toh ada juga yang berhasil, mungkin karena team work yang bagus. Saya sendiri belum pernah menonton pertandingan panjat pinang secara langsung, mungkin karena di kampung saya tinggal tidak ada lapangan yang cukup luas untuk melakukan lomba itu.  

Malam Tirakatan 

Malam tirakatan selalu diadakan pada tanggal 16 Agustus, sehari sebelum perayaan kemerdekaan. Tahun ini warga bisa berkumpul untuk bertirakat setelah pandemi. Tirakatan biasanya dilakukan di setiap RW, tapi tidak menutup kemungkinan dibagi per RT kalau warga satu RT sangat banyak.

Kemarin tirakatan diadakan di pendopo milik RT sebelah, acaranya sendiri dimulai jam 7 malam. Semua warga satu RW berkumpul di sana. Diawali dengan mendengarkan sambutan dari bapak Walikota Yogyakarta kemudian dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng. 

Acara dimeriahkan juga dengan hiburan dari warga yang menyumbangkan suaranya, puncaknya adalah pembagian hadiah lomba 17 Agustus. Para pemenang sangat gembira menerima hadiahnya,  bagian yang paling menyenagkan adalah pembagian doorprize untuk semua warga yang hadir di tirakatan.

Banyak warga yang enggan beranjak meskipun hari sudah mulai malam, satu persatu warga yang sudah mulai lelah atau anaknya mulai rewel memutuskan untuk pulang padahal acara belum selesai. saya jelas menunggu doorprizenya, karena warga yang sudah pulang tidak berhak mendapatkan doorprize.

Penantian saya membuahkan hasil, akhirnya nomer absen saya keluar undian. Saya pun segera maju ke depan, mengambil sebuah kado yang dibungkus dengan kertas Koran. Cukup berat. ini pasti sembako pikir saya, dan benar sesampainya di rumah ternyata isinya setengak kilo gula pasir. Lumayan bukan.

Doorprize yang lain ada yang berupa jajanan seperti biscuit atau wafer, adapula yang mendapatkan 5 bungkus mie instan dan sabun cuci piring. Pokoknya meriah dan bermanfaat deh. Kira-kira jam 10 malam hadiah untuk pemenang lomba dan doorprize selesai dibagikan. Warga pulang ke rumah masing-masing sedangkan panitia sibuk membersihkan peralatan dan sisa-sisa tirakatan.

Upacara Detik-detik Proklamasi Secara Virtual

suasana upacara detik-detik proklamasi yang diikuti peserta daring dari seluruh Indonesia

Pada pagi harinya di tanggal 17 Agustus, saya berencana mengiuti upacara detik-detik proklamasi secara virtual. Seperti tahun-tahun sebelumnya ada peserta yang sudah mendaftar dan bergabung melalui zoom. Saya pilih mengikuti lewat IG live di Kompas TV. 

Meskipun hanya mengikuti secara online tapi tetap terasa khidmat, saat pembacaan naskah teks proklamasi dan pengibaran sang saka merah putih. Pasukan pengibar bendera tampak sangat gagah dan berhasil menjalankan tugas dengan baik. 

Royal Orchestra Kraton Yogyakarta

Dalam rangka memeriahkan gelaran perayaan Agustusan Kraton Yogyakarta mengadakan Pentas Musikan Kamardikan Ensemble Tiup Yogyakata Royal Orchestra. Tentu saja saya tidak melewatkan acara ini karena acara ini terbuka untuk umum, siapa saja boleh hadir dalam acara dengan dresscode merah putih. Jam 4 sore tepat saya sudah sampai di area plataran keben Krataon Yogyakarta, bersamaan dengan gending dan prajurit yang mengantarkan para musisi keluar dari regol.

suasana panggung Yogyakarta royal orchestra pada saat pentas hari kemerdekaan 17 Agustus 2022 yang lalu

Tidak seperti pemain orchestra yang tampil necis dengan setelan jas, para musisi kraton ini menggunakan pakaian tradisional bernuansa merah putih. Saya tidak tahu pasti apakah ada nama khusus untuk pakaian para abdi dalem ini. 

Ada 11 repertoire lagu-lagu kemerdekaan, semuanya dalam bentuk instrumental kecuali satu lagu yang berjudul Pada Pahlawan akan dibawakan dengan menggandeng solo vokal Brian Prasetyoadi. Rupanya tidak hanya saya dan warga Jogja saja yang hadir, keluarga Kraton juga hadir dan lenggah di bagian tengah bangsal Ponconiti. 

Beberapa rombongan wisatawan asing juga ikut menonton pementasan ini dan bergabung dengan kami duduk lesehan. Dalam hati saya bertanya-tanya apakah mereka cukup betah duduk di bawah seperti ini. Pementasan  Royal Orchestra juga disiarkan secara langsung melalui YouTube Kraton Yogyakarta.

Penutup

Lagu Hari Kemerdekaan diulang sebagai lagu penutup sekaligus lagu yang dinyanyikan bersama dengan penonton. Saya terlarut dalam kegembiraan Agustusan kali ini sekaligus terharu dibuatnya. Rangkaian Agustusan saya kali ditutup dengan parade lagu-lagu nasional di Kraton Yogyakarta. Ada rasa bangga terharu dan bahagia bercampuk aduk. Bersyukur kepada Tuhan atas berkat kemerdekaan ini dan berterima kasih kepada para pahlawan yang sudah berjuang merebut kemerdekaan. Dirgahayu Indonesiaku. 


klaverstory
klaverstory Hi, I am Dian