Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Naik Bus Jogja Heritage Track Sambil Belajar Sumbu Filosofi

bus kraton dan bus malioboro nama dari bus jogja heritage

Kamis, 28 Juli 2022 yang lalu menjadi hari bersejarah buat saya. Pasalnya hari itu adalah hari yang paling saya nantikan, akhirnya bisa naik bus sumbu filosofi alias bus Jogja Heritage Track berkeliling kota Jogja. Sejak diluncurkan bus Jogja Heritage Track atau biasa disingkat JHT pada bulan Maret silam saya sangat antusias sekali. Saya teringat pengalaman menyenangkan saat menjajal Surabaya Heritage Tracker, menggunakan bus keliling kota Surabaya dan mengunjungi dua tempat heritage. 

So, tanggal 13 April 2022 saya  mendaftarkan diri, pendaftaran berhasil akan tetapi sayangnya bus masih uji coba pesertanya pun terbatas hanya tamu undangan. Ya sudah tak papa. Rupanya tak perlu berlama-lama mengsedih, kira-kira di akhir bulan Juni ada berita baik.  Masyarakat umum seperti saya ini sudah bisa menikmati layanan bus ini di bulan Juli ini. Huasik!!! Dari sumber yang saya baca per tanggal 14 Juni 2022 sudah ada 1500 orang yang menjajal rute bus Jogja Heritage Track ini. Warbiasak kan?

Apa itu Bus Jogja Heritage Track?

Mungkin di antara kalian ada yang bertanya-tanya apa sih bus Jogja Heritage Track itu? Mungkin juga kalian pernah berjumpa dengan bus ini di kawasan Malioboro atau di salah satu ruas jalan Jogja. Yup, bentuk bus ini unik dan sangat eye catching. Dengan kaca yang super besar hampir 75 % bagian bus ini adalah kaca, di bagian kanan dan kiri dan di bagian atap juga ada kacanya. Pada bagian body ada tulisan Jogja Heritage Track.

Bus ini dikelola oleh DInas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY melalui Balai Pengelolaan Kawasan Sumbu Filosofi (BPKSF). Ada dua unit bus yang disediakan, Bus Kraton yang berwarna kuning dan Bus Malioboro yang berwarna merah. Dalam sehari ada 3 kali pemberangkatan masing-masing pada pukul 09.00, 11.00 dan 14.00 dengan kuota 18 orang. Jadi dalam sehari hanya 52 peserta saja yang bisa ikut program ini. Bisa dibayangkan kan antrian untuk naik bus ini sangat puanjang dan lama hehehe

Bersama bus ini warga Jogja atau wisatawan akan diajak berkenalan dengan kawasan sumbu filosfi. Upaya ini dilakukan untuk mensosialisasikan keberadaan sumbu filosofi kepada masyarakat guna mendukung sumbu filosofi menuju warisan dunia. Ya, rencananya pemerintah DIY akan mendaftarkan Sumbu Filosofi ke UNESCO sebagai warisa dunia tak benda. 

Cara Reservasi Bus JHT  

Perjuangan untuk mendapatkan kuota bus JHT udah kayak war tiket konser idol Kpop ajah heheheh. Cukup sulit untuk mendaftarkan diri, bukan karena akses website atau kendala teknis sih tetapi karena kuota bus yang sangat terbatas. Satu unit bus terdiri dari 12 seat,  1 driver dan 2 penumpang di samping driver untuk crew JHT. Sementara peserta JHT menempati seat di belakang driver, 2 seat paling depan, 3 seat bagian tengah dan 4 seat paling belakang.  

Dari konfigurasi kursi di bus JHT artinya hanya ada kuota 9 orang/unit. Selain kuota,  jadwal keberangkatan yang tersedia pun juga tidak setiap hari.  Sementara hari operasional masih di hari Senin-Jumat bukan di akhir pekan meskipun begitu animo masyarakat luar biasa. Terbukti hampir semua tanggal di bulan Juli sudah hampir full booked lho ya, padahal saat saya melakukan reservasi masih di bulan Juni.

Tanggal 28 Juni 2022, segera setelah memperoleh informasi tentang jadwal keberangkatan bus JHT melalui IG @ sumbufilosfofi, saya pun segera mendaftarkan diri. Reservasi bus JHT dilakukan secara online, klik disini dengan mengakses https://www.jogjaheritage.com. 

Begitu halaman website terbuka, saya klik menu reservasi bus heritage kemudian saya diarahkan untuk memilih jadwal keberangkatan. Terdapat tiga jam keberangkatan yaitu jam 09.00, 11.00 dan 14.00, masing-masing sudah ada info kuota, jadi pilih yang masih ada sisa kursinya ya. saya pilih tanggal 28 Juli jam 14.00 untuk 2 orang, sisa seat saat itu tinggal 4 slot. Huaaa nyaris ini mah, kudu gercep! Setelah itu  saya mengisi data meliputi nama, alamat email, no hp, usia dan jumlah peserta. Usia minimal peserta haruslah sudah 15 tahun ke atas ya. 

Sesudah selesai mengisi saya menerima kode OTP yang dikirim ke email (atau bisa ke WA juga) untuk memverifikasi alamat email dan no HP.  Terakhir saya menerima konfirmasi reservasi akan disampaikan melalu email atau WA. Selesai deh. Semudah itu bukan? Untuk memastikan lagi reservasi sudah sukses,  saya bisa mengecek riwayat reservasi di web yang sama dengan memilih menu riwayat pemesanan pada halaman awal, menunya ada di bawah reservasi. 

Dua hari menjelang jadwal keberangkatan pihak JHT akan mengkonfirmasi kembali keikutsertaan kita, jika kita OK atau tidak ada perubahan maka H-1 keberangkatan akan diinfokan lebih lanjut perihal jam, tempat berkumpul dan dress-code.

Rute bus Jogja Heritage Track

Sesuai dengan pesan yang disampaikan melalui WA, peserta JHT datang ke lokasi 20 menit sebelum keberangkatan di JTTC (Jogja Tourism Training Centre) yang beralamat di JalanArimbi No. 1, Kragilan, Sinduadi, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.

Perjalanan heritage kali ini berlangsung selama 90 menit, waktu akan sedikit lebih lama jika kondisi jalan padat/macet. Dari titik kumpul kantor JTTC kami menuju ke kawasan Tugu kemudian melewati kawasan Malioboro hingga Titik Nol Kilometer. 

Bus akan berhenti di Museum Sonobudoyo untuk berfoto bersama. Selanjutnya bus akan ke arah barat melintasi beberapa benteng yang merupakan bagian dari Kraton menuju ke pemberhentian berikutnya di Panggung Krapyak. Setelah dari kawasan Panggung Krapyak kami kembali lagi ke kantor JTTC dan mengakhiri rute di sini.

Naik Bus Jogja Heritage Track Yuk, Belajar Sumbu Filosofi

Saya bersama 3 orang kawan sudah tiba di lokasi titik kumpul jam 13.30, sepuluh menit lebih awal dari yang seharusnya. Peserta yang lain juga belum tampak, barulah sekitar jam 13.40 dua orang datang dan disusul dua lainnya. Panitia mengumpulkan kami di lobby untuk registrasi dan  memberikan briefing singkat. 

Rencananya akan ada 16 peserta, tapi kok yang baru datang baru 9 orang ya? Pihak JHT memberikan toleransi keterlambatan selama sekitar sepuluh menit, karerna sudah tidak ada yang datang akhirnya kami bersembilan berangkat. Jadi hanya perlu satu unit bus saja. Perlahan bus JHT melaju, mbak Ratna memberikan name tag ke masing-masing peserta dan mewajibkan peserta menggunakan seat belt selama berada di dalam bus. 

suasana berada di dalam bus Jogja heritage track

Sebelum menjelaskan sumbu filosofi, mbak Ratna menceritakan sejarah berdirinya Kraton Yogyakarta. Pangeran Mangkubumi melalui Perjanjian Giyanti (1755) diberikan wilayah di sisi barat. Pangeran Mangkubumi adalah seorang ahli sastra yang sangat memahami filosofi Jawa, sehingga beliau merancang/membangun Keraton Yogyakarta dengan landasan filosofi Jawa yang kuat.

Kraton sebagai pusatnya berada di tengah-tengah, di sisi selatan dibangun Panggung Krapyak dan di sisi utara dibangun tugu golong gilig. Ketiga bangunan ini jika ditarik garis berada dalam satu garis lurus membentuk sumbu imajiner yang dikenal dengan nama sumbu filosofi. Konsep filosofi Islam Jawa yang dimaksud adalah Sangkan Paraning Dumadi yang memiliki makna dari mana kita berasal dan dari mana kita akan kembali, menggambarkan daur hidup manusia daro lahir hingga mati dan kembali kepada Sang Pencipta.

Sepanjang perjalanan mbak Ratna tidak hanya menceritakan tentang bagian yang menjadi sumbu filosofi saja. semua bangunan dan jalan yang kami lewati ternyata oh ternyata punya banyak cerita. Termasuk pemberian nama jalan di kawasan Malioboro yang dikembalikan ke nama asalnya. 

Tidak hanya itu beberapa bangunan di kanan kiri mulai dari Tugu sampai Titik Nol Kilometer punya cerita uniknya. Misalnya saja sebuah bangunan ada di belakang angkringan kopi Joss, dulunya adalah hotel terbesar dan mewah yang dikenal dengan nama Hotel Tugu yang ngehits di sekitar tahun 1900an. 

Sampai di Museum Sonobudoyo kami berhenti sejenak untuk berfoto bersama dan mengamati Kraton Yogyakarta dari kejauhan. Perjalanan kemudian berlanjut ke Panggung Krapyak. Kali ini kami melewati sisi barat sehingga kami berjumpa dengan benteng luar Kraton yang masih tersisa yaitu pojok beteng wetan dan pojok beteng kidul.

Dari rute ini kami juga bertemu dengan 2 pintu gerbang kraton, salah satu yang paling dikenal karena masih utuh adalah plengkung gading  sedangkan satu pintu yang lain mengarah ke Taman Sari, plengkungnya sudah dihilangkan dan sekarang hanya berupa seperti gapura. 

Panggung Krapyak merupakan titik pemberhentian terakhir, kami turun dan berkeliling Panggung Krapyak. Setelah berfoto bersama kami melanjutkan perjalanan kembali ke kantor JTCC di Jalan Magelang.

Banyak cerita tidak terduga muncul dari perjalanan ini, beberapa ada yang sudah pernah saya dengar sebagian lain cerita baru. dari sekian banyak cerita yang saya dengar di tur Jogja Heritage kemarin, cerita tentang Panggung Krapyak ini paling menarik buat saya. Penasaran ya ada cerita apa? Baiklah saya akan tulis secara terpisah nanti ya di bagian lain. 

Penutup

Satu kata setelah menjajal bus Jogja Heritage Track, seruuu., Enggak hanya berwisata tapi juga ada nillai edukatif karena didampingi seorang edukator. Serasa dibawa ke masa-masa sekolah tapi kalau ngajar sejarahnya dengan cara ini sih nggak bakal ngantuk deh. 

program bus Jogja Heritage ini dimaksudkan untuk mengenalkan ke pada masyarakat tentang sumbu filosofi. Sosialisasi ini dilakukan dalam rangka mendukung rencana pemerintah yang mengusulkan sumbu filosofi sebagai warisan dunia ke UNESCO. Saya sobat filosofier mendukug sumbu filosofi menuju warisan dunia.



klaverstory
klaverstory Hi, I am Dian

Posting Komentar untuk "Naik Bus Jogja Heritage Track Sambil Belajar Sumbu Filosofi"