Must Read When (You Feel Like) You Want To Give Up

introduction

just a little talk



Hai, mau cerita sedikit tentang klaverstory, buat brain strorming dan pengingat jika suatu saat nanti saya lelah untuk bercerita. Tulisan ini semoga menjadi cheersleader yang bersorak-sorak sambil menari di pinggir lapangan. Menjadi konsisten itu tidak mudah apalagi tidak ada komitmen. Kita mudah sekali membuat alasan atas ini dan itu. Tulisan ini berikutnya akan menjadi “kontrak kerja” buat saya untuk menyelesaikan apa yang sudah saya mulai. Di tahun 2020 ini

Tidak pernah terpikirkan sebelumnya bahwa sebuah buku kecil berwarna hijau dengan  lambang Garuda di sampul depannya akan mengubah seluruh perjalanan hidup saya. Memulai perjalanan di awal usia 30an, saat tentu saja investasi harus mulai dipikirkan misalnya menabung, membeli asset atau memulai bisnis. Saya justru ber”investasi” pada stempel-stempel imigrasi yang entah berapa digit andai bisa diuangkan kembali.

Once a year go some place you’ve never been there before. Setuju banget sama pemikiran Dalai Lama yang artinya kira-kira gini, pikniklah setahun sekali ke tempat yang belum pernah kamu kunjungi. Apalagi bagi perkerja kantoran yang harus ngurus cuti dan ini itu. Apalagi melakukan perjalanan juga butuh duit, jadi setahun itu pas banget uang tabungan ngumpul. Mengingat semua perjuangan itu, saya sadar bahwa investasi terbesar selama hidup saya adalah sebuah pengalaman.
Investasi seperti emas atau hektaran tanah mungkin akan menghasilkan keuntungan finansial lebih saat kita menjualnya kembali. Barangkali ada perasaan puas saat kita bisa mendapat tambahan saldo di rekening kita. Seolah-olah itu cukup membayar kerja keras setiap hari, berangkat pagi, kerja dari jam 08.00 pagi dan pulang jam 17.00 dari Senin sampai Jumat. Kadang lembur sampai malam, bila perlu kadang Sabtu tetep ngantor.

Tanda kemapanan lain mungkin bisa dinilai dari kempuan seseorang membeli kendaraan, sementara yang lain sudah mapan jika sudah punya rumah sendiri. Sementara saya tidak memiliki keduanya. Kenapa tidak, yah untuk sekedar membayar uang mukanya tabungan saya tidak cukup. Lagipula saya lebih rajin googling untuk mendapatkan tiket murah daripada lokasi perumahan bersubsidi. Ada yang bilang prioritas orang berbeda, mungkin rumah bukan prioritas kamu, kata seorang teman. Kemudian saya tersenyum.

Memaknai kata “rumah” ada perasaan sedikit “weird” setiap kali  melakukan sebuah perjalanan. Setiap perjalanan itu seperti pulang ke “rumah” untuk saya.  Kok bisa? Entahlah, setidaknya saya tidak pernah keberatan atau bosan mengunjungi destinasi yang sama lebih dari satu kali. Tempat boleh sama, tapi waktu sudah berganti dan tentu saja kita juga akan mengalami kejadian yang berbeda bukan. Traveling memang bukan segalanya, tapi dengan traveling saya belajar segalanya. Dan bukankah hidup kita itu adalah perjalanan itu sendiri. Perjalanan menuju ke rumah. And I’m just like feeling home.

Sometimes, home isn’t a place, home is a feeling. Blog ini mencoba menghadirkan semua perasaan itu, perasaan yang nyaman saat berada di “rumah”dan mencoba menikmati hidup seberat apapun. Saya menutup tahun2019 dengan cerita yang teramat dramatis. Saat memulainya, tahun 2020 penuh dengan tanda tanya, misteri dan kejutan tetapi saya menikmati kehidupan baru saya dengan perasaan bahagia. Di saat semua terasa tidak mudah,saya hanya perlu mengingat rasa bahagia ini dan mulai menulis lagi. Life must go on, dream on dreamer.

Sekian
Cheers up
dNP
#cheaptalk


Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer